Halal Bihalal PGRI Situjuah Merajut Ukhuwah

 


Limapuluh Kota, Suara Sumbar

Di aula SMK Negeri 2 Payakumbuh, Sabtu itu (11/4/2026), para guru berkumpul bukan sekadar untuk bertatap muka, tetapi untuk saling menyentuh hati. Halalbihalal Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar PGRI Cabang Situjuah Limo Nagari menjadi lebih dari sekadar seremoni—ia menjelma ruang sunyi tempat jiwa-jiwa yang mengabdi saling menemukan kembali maknanya.

Mengusung tema “Sucikan Hati, Sambung Silaturahmi, Pererat Ukhuwah dalam Indahnya Kebersamaan”, pertemuan ini seperti mengingatkan bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu, tetapi tentang merawat kemanusiaan.

Ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan dengan syahdu membuka acara, seakan menjadi penanda bahwa segala yang dimulai dari langit akan menemukan jalannya di bumi. Dalam keheningan itu, setiap yang hadir seperti diajak pulang—pulang kepada niat awal mengapa mereka memilih jalan pengabdian ini.

Kehadiran Wakil Bupati Lima Puluh Kota, Ahlul Badrito Resha, bersama jajaran pejabat daerah dan para pendidik lintas jenjang, mempertegas bahwa pendidikan adalah urusan bersama—sebuah ikhtiar kolektif yang tak pernah selesai. Namun suasana yang semula khidmat perlahan mencair, ketika sambutan dibuka dengan pantun sederhana. Tawa pun pecah, membuktikan bahwa kebersamaan selalu menemukan jalannya melalui hal-hal yang ringan.

Dalam sambutannya, terselip pesan yang sederhana namun dalam: bahwa Halalbihalal bukan hanya tradisi tahunan, melainkan cara manusia merawat luka yang tak selalu tampak. Sebab dalam perjalanan setahun, ada kata yang mungkin berlebih, ada sikap yang mungkin melukai. Dan di ruang seperti inilah, maaf menjadi jembatan yang menghubungkan kembali yang sempat renggang.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa guru memikul amanah yang tak ringan—membentuk generasi yang tak hanya cerdas pikirannya, tetapi juga halus adabnya. Sebab ilmu tanpa adab adalah cahaya tanpa arah.

Puncak acara diisi tausiyah oleh Ustad Bombom dari Kampar, Riau. Dengan gaya yang cair dan jenaka, ia menghadirkan tawa yang tak sekadar menghibur, tetapi juga menyadarkan. Di sela canda, terselip pesan tentang disiplin, keikhlasan, dan kesungguhan—bahwa menjadi guru adalah tentang hadir sepenuhnya, bahkan ketika lelah tak bisa dihindari.

Pada akhirnya, Halalbihalal bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi tentang mengingat kembali—bahwa di balik setiap papan tulis, setiap buku pelajaran, dan setiap ruang kelas, ada jiwa-jiwa yang bekerja dalam diam, menanam masa depan tanpa pernah benar-benar tahu kapan akan menuai.

Catatan : Fadliriansyah 


Lebih baru Lebih lama

نموذج الاتصال